Godaan Menjelang Pernikahan


Ga terasa bulan ini sudah mulai masuk bulan ke-8 pernikahan dengan istri tercinta dan Alhamdulillah Allah sudah memberikan amanah untuk kami berdua dengan kehamilan istri yang memasuki bulan ke 5. Jika mengingat kembali awal jalan kami berdua, senyum manis dan syukur menghiasi wajahku. Betapa tidak, Allah mempertemukan kami dengan caraNYA yang tak terduga di saat yang tidak disangka. Tak terasa kami pun merintis jalan menuju ke pernikahan di tahun yang sama saat kami dipertemukan. Cukup bikin heran beberapa orang di sekeliling kami tentunya ^_^ tapi berbekal keyakinan dan ridhaNYA, kami berada di titik ini saat ini. Tentu bukan tanpa godaan ataupun ujian untuk mengkokohkan hubungan kami hingga ke pernikahan.

Di tahun yang sama ini ada juga beberapa rekan yang telah meniti jalan yang sama, yaitu menuju pernikahan. Di kesempatan ini ku cuman pengen sharing aja, baik dari pengalaman Pribadi dan juga tulisan2 dari berbagai sumber mengenai godaan mejelang pernikahan. Percaya deh, godaan itu pasti ada aja, tapi bukan berarti untuk ditakuti, justru godaan2 itu harus dihadapi bersama-sama dan bias jadi ujian yang mengkokohkan suatu hubungan. Jadi silahkan disimak ;)

  1. Mantan pacar kembali
    Sakit hati karena diputus masih kerasa. Apalagi kalo cinta pertama. Godaan ini tentunya akan terasa makin berat. Rasa untuk kembali, rasa ingin memperbaiki dan menjadi yang terbaik, pasti ingin dilakukan. Tetapi ingat, dia orang yang udah nyakitin hati kamu, dan masa lalu ngga akan pernah bias kembali. Ingat orang-orang yang sudah membuat kamu bangkit dari “galau akut”.
  2. Mendadak “laris”
    Banyak cowok cakep atau cewek cantik yang tiba-tiba ngajak jalan, atau tiba-tiba ngerasa klik dengan teman baru. Meski niatnya hanya sekadar mengenal atau menjalin hubungan sahabat, sebaiknya hindari. “Jangan main api kalo ngga ingin terbakar.”
  3. Kekurangan jadi terlihat
    Menjelang detik-detik pernikahan, akan membuat kamu dan pasangan semakin dekat. Sisi negatif pun akan terlihat. Yakinkan diri kamu, apakah sisi negatifnya bisa diterima nantinya, atau justru akan membuat huru hara.
  4. Menolak masa lalu
    Tak ingin ada rahasia, kalian memutuskan untuk bercerita tentang kejadian di masa lalu. Ternyata keterbukaan dan kejujuran itu mendatangkan masalah. Apalagi jika masa lalunya kelam. Jika kamu memang serius, gunakanlah keikhlasan untuk menerima dia apa adanya, dan yakin kalau dia telah berubah. Ngga ada manusia yang sempurna, “Mantan penjahat itu lebih baik dari pada mantan orang baik.”
  5. Keuangan terbatas
    Mempersiapkan tabungan sebelum menikah itu sangat penting. Berembuklah bersama pasangan tentang tema, gedung atau katering yang akan digunakan. Hindarilah meminjam uang atau utang, karena berpotensi merusak kebahagiaan pasca menikah. Keep it simple, Karena yang lebih penting adalah setelah prosesi acara, bukan acaranya.
  6. Waktu yang singkat
    Persiapan pernikahan tidak seperti ujian akhir, yang bisa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Catatlah semua kebutuhan dan tanggal deadline. Jangan pernah berpikir waktu yang Anda miliki masih panjang.
  7. Tiba-tiba ragu
    Pernikahan tinggal menghitung hari. Kamu mendadak ragu, karena dihantui banyak pertanyaan. Misalnya, apakah ia calon ibu/ayah dari anakku nantinya, apakah aku nantinya akan menghabiskan waktu dengan dia, dan apakah ini pernikahan yang aku impikan. Carilah semua jawaban itu dengan berbicara ama pasangan kamu. Jangan mencari jawaban sendiri, karena nantinya kalian akan hidup berdua. Hilangin “aku”dan “kamu”mulai berpikir tentang “kita”dan melibatkan pasangan.
  8. Mendapatkan pekerjaan impian
    Ketika kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan, datang tawaran pekerjaan baru yang sudah dinanti. Tetapi di pekerjaan baru ini, kamu tidak boleh terikat pernikahan. Tentunya ini menjadi pilihan sulit, karier, atau pernikahan?
  9. Sering bertengkar
    Menjelang hari H, kalian semakin sering bertengkar. Hal kecil mungkin bisa menjadi besar. Biasanya ini karena kecemasan dan kegugupan menjelang hari H. Kuncinya hanya satu yaitu kesabaran.
  10. Orang tua tidak kompak
    Biasanya ini dipicu sifat orang tua yang dominan. Misalkan keluarga pihak pria menginginkan A, tetapi pihak wanita tidak setuju, ia lebih menyukai B. Anda dan pasangan sebaiknya bersiap-siap untuk hal yang satu ini. Meski terlihat sepele, perbedaan persepsi antar orang tua berpotensi memicu perpecahan.

Untuk teman-teman yang sedang merencakanan pernikahan, semoga dikabulkan niat untuk beribadah dan diberikan kelancaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s