Listening to Marry Your Daughter by BRKNRBTZ

Most memorable song for me,,,,, came out at the perfect time. A theme song of my proposal,,,

Listening to Marry Your Daughter by BRKNRBTZ

Preview it on Path

Advertisements

Mewujudkan Pernikahan Bahagia

Pepatah bilang, belajarlah sukses dari kegagalan. Kenapa ko gitu ??? agar kita tau apa yang seharusnya tidak kita lakukan, dan belajar dari kesalahan. Tapi bukan berarti harus gagal dulu baru bisa sukses dong ^_^ kita juga bisa belajar dari pengalaman orang lain. Sama halnya dengan pernikahan, jangan nunggu gagal dulu baru belajar, hehehehe. Persiapan pulang ngantor mulai rutinitas baca artikel berita, eh ko ada artikel yang bagus di yahoo tentang saran pernikahan dari orang-orang yang telah bercerai.

Selama 25 tahun mempelajari tentang pernikahan, Dr. Terri Orbuch, profesor peneliti di University of Michigan dan penulis buku baru “Finding Love Again: 6 Simple Steps to a New and Happy Relationship,” telah mengumpulkan beberapa saran terbaik untuk hubungan asmara. Saran-saran terbaik ini, uniknya, berasal dari orang-orang yang telah bercerai. Pada 1986, Orbuch memulai sebuah studi jangka panjang yang mengkaji hubungan 373 pengantin baru. Pada 2012, 46 persen pasangan tersebut bercerai. Dalam wawancara dengan Orbuch, orang yang telah bercerai atau yang sering mengakhiri hubungan serius mengangkat lima isu serupa yang mereka ingin perbaiki jika mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi.

  1. Uang

    “Banyak orang yang bercerai mengatakan, uang merupakan sumber utama konflik di tahun-tahun awal pernikahan,” kata Orbuch. Dia juga menemukan bahwa, “6 dari 10 orang mengatakan bahwa mereka tidak akan berbagi biaya hidup dalam hubungan mereka berikutnya.”

    Orbuch merekomendasikan masing-masing pasangan untuk mengevaluasi pendekatan mereka sendiri untuk menggunakan dan menabung uang serta berdiskusi dengan pasangan mereka sejak dini. Memang, tidak ada rencana keuangan yang cocok bagi semua orang, tetapi pasangan perlu untuk menentukan peraturan mereka sendiri dan mematuhi peraturan tersebut.

  2. Kasih sayang

    Ternyata pria mendambakan kasih sayang (tapi belum tentu seks) lebih banyak dari perempuan. “Ini berlawanan dengan anggapan pada umumnya,” kata Orbuch. “Pria mengharapkan perasaan istimewa dan diperhatikan oleh istri mereka.”

    Pria yang mengakui tidak mendapatkan kasih sayang nonseksual yang cukup, kata Orbuch, dua kali lebih mungkin untuk meminta cerai, tetapi hal sebaliknya tidak terjadi pada perempuan. “Perempuan beruntung. Kita mendapatkan rasa disayangi dari lebih banyak orang dalam hidup kita, ibu kita, anak-anak, teman-teman baik” — jadi wanita cenderung membutuhkan lebih sedikit cinta dari suami.

    Dia merekomendasikan untuk sering menunjukkan kasih sayang dengan memeluk, mencium, memegang tangan, dan mengatakan “Aku mencintaimu.”

  3. Disalahkan

    Periksalah apa yang salah dalam hubungan Anda, bukan mencari siapa yang salah, saran Orbuch. Dan pikirkan tentang cara menyelesaikan konflik dengan lebih baik di hubungan berikutnya. “Ketika pasangan bercerai yang bermasalah menggunakan kata ‘kita,’ mereka lebih mungkin menemukan cinta ketimbang menggunakan kata ‘aku’ atau ‘kamu’.”

  4. Komunikasi

    Orbuch mengatakan, pasangan sering jatuh ke dalam perangkap “pemeliharaan hubungan” daripada komunikasi yang sejati. Dia menyarankan untuk menerapkan “aturan 10 menit” setiap hari ketika Anda, “Berbincang dengan pasangan Anda tentang sesuatu selain pekerjaan, hubungan, rumah, atau anak-anak.”

    Kuncinya adalah mengungkapkan sesuatu tentang diri Anda sendiri dan belajar sesuatu tentang pasangan Anda. “41 persen dari orang yang bercerai mengatakan bahwa mereka ingin mengubah gaya komunikasi mereka,” ujar Orbuch, “dan 91 persen pasangan menikah yang bahagia mengatakan bahwa mereka mengenal pasangannya secara intim.”

  5. Melupakan

    Melepas masa lalu adalah kunci untuk mendapatkan hubungan yang bahagia. Hal ini berlaku untuk orang yang saat ini menikah maupun orang yang sedang dalam pencarian cinta.

    Jika Anda kesal karena masalah mantan pacar pasangan Anda atau perkelahian yang terjadi beberapa pekan lalu, Anda mungkin tidak berinteraksi dengan cara yang sehat dan positif. “Rasa benci tersebut membuat Anda tidak dapat berhubungan secara maksimal,” kata Orbuch.

    Ia juga menyebutkan bahwa orang yang merasa netral terhadap mantan mereka secara signifikan lebih mungkin untuk menemukan cinta setelah bercerai. Jika Anda tidak dapat melepaskan kemarahan Anda, Orbuch menyarankan beberapa cara untuk melakukannya. Salah satu caranya termasuk membakar surat-surat untuk orang yang membuat Anda geram.

Godaan Menjelang Pernikahan

Ga terasa bulan ini sudah mulai masuk bulan ke-8 pernikahan dengan istri tercinta dan Alhamdulillah Allah sudah memberikan amanah untuk kami berdua dengan kehamilan istri yang memasuki bulan ke 5. Jika mengingat kembali awal jalan kami berdua, senyum manis dan syukur menghiasi wajahku. Betapa tidak, Allah mempertemukan kami dengan caraNYA yang tak terduga di saat yang tidak disangka. Tak terasa kami pun merintis jalan menuju ke pernikahan di tahun yang sama saat kami dipertemukan. Cukup bikin heran beberapa orang di sekeliling kami tentunya ^_^ tapi berbekal keyakinan dan ridhaNYA, kami berada di titik ini saat ini. Tentu bukan tanpa godaan ataupun ujian untuk mengkokohkan hubungan kami hingga ke pernikahan.

Di tahun yang sama ini ada juga beberapa rekan yang telah meniti jalan yang sama, yaitu menuju pernikahan. Di kesempatan ini ku cuman pengen sharing aja, baik dari pengalaman Pribadi dan juga tulisan2 dari berbagai sumber mengenai godaan mejelang pernikahan. Percaya deh, godaan itu pasti ada aja, tapi bukan berarti untuk ditakuti, justru godaan2 itu harus dihadapi bersama-sama dan bias jadi ujian yang mengkokohkan suatu hubungan. Jadi silahkan disimak ;)

  1. Mantan pacar kembali
    Sakit hati karena diputus masih kerasa. Apalagi kalo cinta pertama. Godaan ini tentunya akan terasa makin berat. Rasa untuk kembali, rasa ingin memperbaiki dan menjadi yang terbaik, pasti ingin dilakukan. Tetapi ingat, dia orang yang udah nyakitin hati kamu, dan masa lalu ngga akan pernah bias kembali. Ingat orang-orang yang sudah membuat kamu bangkit dari “galau akut”.
  2. Mendadak “laris”
    Banyak cowok cakep atau cewek cantik yang tiba-tiba ngajak jalan, atau tiba-tiba ngerasa klik dengan teman baru. Meski niatnya hanya sekadar mengenal atau menjalin hubungan sahabat, sebaiknya hindari. “Jangan main api kalo ngga ingin terbakar.”
  3. Kekurangan jadi terlihat
    Menjelang detik-detik pernikahan, akan membuat kamu dan pasangan semakin dekat. Sisi negatif pun akan terlihat. Yakinkan diri kamu, apakah sisi negatifnya bisa diterima nantinya, atau justru akan membuat huru hara.
  4. Menolak masa lalu
    Tak ingin ada rahasia, kalian memutuskan untuk bercerita tentang kejadian di masa lalu. Ternyata keterbukaan dan kejujuran itu mendatangkan masalah. Apalagi jika masa lalunya kelam. Jika kamu memang serius, gunakanlah keikhlasan untuk menerima dia apa adanya, dan yakin kalau dia telah berubah. Ngga ada manusia yang sempurna, “Mantan penjahat itu lebih baik dari pada mantan orang baik.”
  5. Keuangan terbatas
    Mempersiapkan tabungan sebelum menikah itu sangat penting. Berembuklah bersama pasangan tentang tema, gedung atau katering yang akan digunakan. Hindarilah meminjam uang atau utang, karena berpotensi merusak kebahagiaan pasca menikah. Keep it simple, Karena yang lebih penting adalah setelah prosesi acara, bukan acaranya.
  6. Waktu yang singkat
    Persiapan pernikahan tidak seperti ujian akhir, yang bisa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Catatlah semua kebutuhan dan tanggal deadline. Jangan pernah berpikir waktu yang Anda miliki masih panjang.
  7. Tiba-tiba ragu
    Pernikahan tinggal menghitung hari. Kamu mendadak ragu, karena dihantui banyak pertanyaan. Misalnya, apakah ia calon ibu/ayah dari anakku nantinya, apakah aku nantinya akan menghabiskan waktu dengan dia, dan apakah ini pernikahan yang aku impikan. Carilah semua jawaban itu dengan berbicara ama pasangan kamu. Jangan mencari jawaban sendiri, karena nantinya kalian akan hidup berdua. Hilangin “aku”dan “kamu”mulai berpikir tentang “kita”dan melibatkan pasangan.
  8. Mendapatkan pekerjaan impian
    Ketika kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan, datang tawaran pekerjaan baru yang sudah dinanti. Tetapi di pekerjaan baru ini, kamu tidak boleh terikat pernikahan. Tentunya ini menjadi pilihan sulit, karier, atau pernikahan?
  9. Sering bertengkar
    Menjelang hari H, kalian semakin sering bertengkar. Hal kecil mungkin bisa menjadi besar. Biasanya ini karena kecemasan dan kegugupan menjelang hari H. Kuncinya hanya satu yaitu kesabaran.
  10. Orang tua tidak kompak
    Biasanya ini dipicu sifat orang tua yang dominan. Misalkan keluarga pihak pria menginginkan A, tetapi pihak wanita tidak setuju, ia lebih menyukai B. Anda dan pasangan sebaiknya bersiap-siap untuk hal yang satu ini. Meski terlihat sepele, perbedaan persepsi antar orang tua berpotensi memicu perpecahan.

Untuk teman-teman yang sedang merencakanan pernikahan, semoga dikabulkan niat untuk beribadah dan diberikan kelancaran.

Tergoda Nikmat Sesaat Penyesalan Berlipat-lipat

Menunggu datangnya waktu buka puasa rasanya senang sekali. Membayangkan makanan dengan kelezatannya. Rasanya ingin segera menyantapnya. Begitulah perasaan orang yang lapar, pasti sangat senang jika menyadari ada makanan yang siap disantap.

Jika sudah menyelesaikan acara berbuka puasa, apalagi sampai terlalu kenyang, pasti semua jenis makanan yang semula terasa istimewa menjadi kurang selera untuk disantap lagi. Terrnyata makanan itu rasanya akan lebih‘nendang’ di lidah saat kita betul-betul lapar. Orang kalau sudah kekenyangan pasti kehilangan selera makan.

Puasa identik dengan pendidikan untuk mengendalikan diri. Mengendalikan nafsu agar kita menjadi insan yang bertaqwa. Di bulan puasa, seolah Allah menunjukkan pada kita bahwa nikmatnya dunia itu sangat sebentar. Dari pagi sampai sore kita menganggap hampir semua makanan dan minuman itu sangat menggoda. Tapi usai maghrib jadi berubah persepsi kita tentang makanan dan minuman. Terasa biasa kembali. Nafsu kalau dituruti begitu saja tanpa ada pengendalian, maka pemiliknya akan kehilangan nikmatnya pengendalian nafsu.

Jadi, saat kita bisa mengendalikan hawa nafsu, di dalamnya ada nikmat keikhlasan, ada ketenangan jiwa dan ketentraman batin, yang hal itu tidak akan pernah dirasakan oleh orang-orang yang biasa mengumbar hawa nafsu.

Orang yang mampu mengendalikan farji (kemaluan)nya agar tidak berzina, maka dia akan merasakan kebahagiaan yang hal ini tidak didapatkan oleh orang yang gemar berzina. Orang yang berzina paling hanya merasakan nikmat sesaat, ketika sperma telah memancar nafsu syahwat yang semula membara langsung pudar. Setelah itu hati gundah, resah dan perasaan dosa yang menggila. Tak ada ketenangan batin bagi para pendosa.

Mudah-mudahan kita semua bisa terlatih untuk bisa mengendalikan hawa nafsu, tidak hanya di bulan ramadhan saja namun juga di kesempatan yang lain selain bulan ramadhan. Amin.

Disadur dari tulisan ilham.web.id